"you can love me for who I am, or hate me for who you think I am" -Travis Garland-

Selasa, 21 April 2015




1. Groups

Groups atau kelompok adalah sejumlah orang dengan norma, nilai-nilai, dan harapan yang mirip dan berinteraksi secara teratur.

1.1 Terdapat berbagai macam tipe groups:

1.1.1 Primary Group

Kelompok kecil yang intim, berasosiasi dan bekerja sama face-to-face atau dengan bertemu.

1.1.2 Secondary Group

Formal, bersifat umum, hanya sedikit keintiman sosial dan saling pengertian yang ada.

1.1.3 In Group

Suatu group atau kategori dimana seseorang merasa disana tempat mereka seharusnya.

1.1.4 Out Group

Suatu group atau kategori dimana seseorang merasa disana bukan tempat mereka.

1.1.5 Reference Group

Suatu group dimana seseorang menggunakannya sebagai standar untuk mengukur perilaku mereka sendiri.

1.2 Small Group

Dimana group sudah cukup kecil untuk anggota group berinteraksi terus-menerus.

1.2.1 Dyad adalah group yang terdiri dari dua orang

1.2,2 Triad adalah group yang terdiri dari tiga orang

2. Family

Family atau keluarga adalah orang-orang yang berhubungan darah, perkawinan, atau hubungan yang disepakati lainnya, atau adopsi yang berbagi tanggung jawab utama untuk reproduksi dan merawat anggota masyarakat.



2.1 Komposisi Keluarga

2.1.1 Nuclear Family

Keluarga yang terdiri dari keluarga inti seperti ayah,ibu, dan anak-anaknya.

2.1.2 Extended Family

Suatu kelurga dimana terdapat keluarga lain seperti kakek, nenek, om, tante, dll. yang tinggal satu rumah dengan keluarga inti yang terdiri dari ayah,ibu, dan anak-anaknya.

2.1.3 Polygamy

Ketika seorang individu memiliki beberapa suami atau istri secara bersamaan.

2.1.4 Polyginy

Seorang pria yang memiliki lebih dari satu istri.

2.1.5 Polyandry

Seorang wanita yang memiliki lebih dari satu suami.

2.2 Pola Kinship

2.2.1 Bilateral Descent

Kedua belah pihak keluarga seseorang dianggap sama pentingnya.

2.2.2 Patrilineal Descent

Hanya keluarga dari pihak ayah yang dianggap penting.

2.2.3 Matrilineal Descent

Hanya keluarga dari ibu yang dianggap penting.

2.3 Authority Patterns

2.3.1 Patriarchy

Laki-laki yang diperkirakan akan mendominasi dalam semua pengambilan keputusan keluarga.

2.3.2 Matriarchy

Wanita memiliki kewenangan yang lebih besar daripada laki-laki.

2.3.3 Egalitarian family

Keluarga dimana ayah dan ibu dianggap mempunyai kewenangan yang sama.

2.4 Enam Fungsi keluarga:
   Protection atau perlindungan
   Socialization atau sosialisasi
   Reproduction atau reproduksi
   Regulation of sexual behavior atau Peraturan perilaku seksual
   Affection and companionship atau kasih sayang dan persahabatan
   Provision of social status atau pemberian status sosial

3. Communities


3.1 Early Communities

Tergantung pada lingkungan fisik untuk pasokan makanan.Masyarakat hortikultura menyebabkan perubahan dramatis dalam organisasi sosial manusia. 

4. Cities

4.1 Preindustrial Cities

Hanya beberapa ribu orang yang tinggal dalam perbatasan mereka. Ditandai dengan sistem kelas yang relatif tertutup dan mobilitas sosial yang terbatas. Status biasanya didasarkan pada karakteristik darimana berasal, dan pendidikan yang terbatas pada elit.





4.2 Lima Jenis Tipe yang terdapat di kota menurut Gans:
   Cosmopolites
   Tidak menikah dan tidak mempunyai anak
   Desa etnik
   yang dirampas
   yang terjebak
4.3 Masalah yang terdapat di kota:
   kejahatan
   polusi
   sekolah-sekolah
   transportasi yang tidak memadai

5. States

Sebuah negara adalah masyarakat dengan pemerintah pusat formal, dan pembagian masyarakat ke dalam kelas. Sebuah negara mengendalikan wilayah daerah tertentu.

5.1 Eligatarian Society

Kebanyakan biasanya ditemukan di antara pemburu dan suku.
Masyarakat ini tidak memiliki perbedaan statusnya kecuali yang berdasarkan usia, jenis kelamin, dan kualitas individu, bakat, dan prestasi. Semua orang dilahirkan sama, tapi selama hidup mereka mencapai status yang berbeda.

5.2 Ranked Society

Masyarakat ini memiliki ketidaksetaraan turun-temurun, tetapi kuramg dalam stratifikasi sosial.
Ada kontinum status sebagai individu yang peringkat dalam hal jarak silsilah mereka dari kepala.
Tidak semua masyarakat peringkat yang chiefdom, hanya mereka yang ada adalah hilangnya otonomi desa disebut chiefdom.



Sumber: 

disarikan dari materi Binus Maya tentang Human Organizations: Groups, Families, Communities, Cities, and States Pertemuan ke-6 pada tanggal 15 April 2015



Human Philosophical Reflections 2: Knowledge, Intelligence, Affection, and Freedom

 


1. Knowledge/ Pengetahuan

Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti memandang suatu objek yang terdapat di sana, di depan subjek, yang dapat dijangkau oleh pandangan dan oleh tangan manusia. 

Terdapat berbagai macam pengetahuan: 

1.1 Indrawi lahir atau indrawi luar

Dikatakan demikian ketika orang mencapainya secara langsung, melalui penglihatan, pendengaran, pembau, perasaan, serta peraba setiap kenyataan yang mengelilinginya.

1.2 Indrawi batin

Adalah ketika menampakkan dirinya kepada orang dengan ingatan dan khayalan, baik mengenai apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauannya.

1.3 Pengetahuan perseptif


Ketika muncul secara spontan, pengetahuan itu memungkinkan orang untuk menyesuaikan dirinya secara langsung dengan situasi yang disajikan. contohnya seperti gerakan tangan, tingah laku, jeritan, daripada dengan perkataan yang dipikirkan atau dengan keterangan yang jelas.

1.4 Pengetahuan Refleksif

Ketika pengetahuan itu membuat objektif kodrat dari suatu realitas apa pun juga, yang diungkapkan dalam bentuk ide, konsep, definisi, serta putusan-putusan maupun dalam bentuk lambang, mitos, atau karya-karya seni.

1.5 Pengetahuan Diskursif

Ketika pengetahuan itu memperhatikan suatu aspek dari benda kemudian suatu aspek yang lain, ketika pengetahuan itu pergi dan datang dari keseluruhan ke bagian-bagian, dan dari bagian-bagian ke keseluruhan.
Pengetahuan dalam arti ini lebih menampakkan diri sebagai sesuatu yang datang dari sebab ke akibat dan dari akibat ke sebab, dari prinsip ke konsekuensi dan dari konsekuensi ke prinsip, dan sebagainya.

1.6 Pengetahuan Intuitif 


Ketika pengetahuan menangkap atau memahami secara langsung benda atau situasi dalam salah satu aspeknya, keseluruhan dalam satu bagian, sebab dalam akibat, konsekuensi dalam prinsip, dan sebagainya.

Meskipun pengetahuan menyerupai kesadaran namun tidak ada persesuaian yang sempurna antara pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu realitas menjadi kurang lebih dinyatakan. 

2. Intelligence


2.1 Terminologi Intelligence


Istilah Inteligensi diambil dari kata intellectus dan kata kerja intellegere (bahasa Latin). Kata intellegere terdiri dari kata intus yang artinya dalam pikiran atau akal, dan kata legere yang berarti membaca atau menangkap. Kata intellegere dengan ini berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam. 

2.2 Pengertian Intelligence


Inteligensi adalah kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi, dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi, ingatan, konseptual, abstraksi, imajinasi, atensi, konsentrasi. seleksi relasi, rencana, ekstrapolasi, prediksi, kontrol (pengendalian), memilih, mengarahkan. Berbeda dengan naluri, kebiasaan, adat istiadat, hafalan tanpa mempergunakan pikiran, tradisi.

2.3 Insight

Merupakan tahap berikutnya dari intelligence, merupakan penangkapan intelektual secara mendadak mengenai objek. Melalui tahap ini inteligensi manusia tidak hanya menyadari secara pasif apa yang terjadi, tetapi berusaha untuk menangkap esensi atau hakikat atau inti peristiwa tertentu.  

3. Affection 

Affection/Afektivitas tidak sama dengan pengetahuan, namun menjadi penggerak atau penyebab dan sekaligus akibat dari proses pengetahuan manusia dalam arti penerapannya dalam bentuk perbuatan atau tindakan. 


Cinta (disebut afektivitas positif) atau benci (disebut afektivitas negatif) dapat menjadi dasar penentuan bagi suatu tindakan kognitif.

3.1 Kondisi-kondisi untuk mencapai afaktivitas:

3.1.1 Antara subjek dan objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri, karena ketika tidak ada kesamaan maka tidak akan ada afektivitas.

3.1.2 Nilai (baik dan buruk), dalam kondisi ini, ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan kegiatan afektif, karena afektivitas itu sendiri adalah berdasar pada kecintaan akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan melahirkan kegiatan afektif untuk menolak atau menerima.




3.1.3 Sifat dasariah dan kecenderungan kognitif, pada kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus ditunjang dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih cenderung, selera, berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat dasariah tersebut.

3.1.4 Mengenal adalah kausa dari afektivitas. Dalam proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan ketika definisi tentang objek tersebut telah tercapai maka pada akhirnya akan lahir sebuah keputusan afektif apakah dia harus menyerang, mencintai, mempertahankan diri atau yang lainnya.

3.1.5 Imajinasi. Untuk menimbulkan kegiatan afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong, semangat, mempengaruhi bahkan membohongi.

3.2 Public Display of Affection

Public Display of Affection (PDA) adalah sebuah istilah umum yang sering digunakan untuk menjelaskan sebuah kegiatan yang menebar keintiman lewat demostrasi pisik yang dipertontonkan didepan khayalak ramai. Salah satu contoh dari PDA ini adalah berpelukan, berciuman, menebar kedekatan atau gerakan pisik lainya didepan umum.




4. Freedom


Freedom/kebebasan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari diri manusia, juga karena kebebasan itu dalam kenyataannya merupakan suatu yang bersifat "fragile"; kebebasan bersifat sensitif dan rapuh. Manusia adalah makhluk yang bebas, namun sekaligus manusia adalah makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya.

4.1 Pengertian Freedom


Pada jaman penjajahan kebebasan mungkin lebih diartikan sebagai keadaan terlepas dari penindasan oleh penjajah. Namun pada masyarakat modern, di mana bentuk penjajahan terhadap kebebasan juga semakin berkembang.

Kebebasan pada jaman sekarang bukan hanya berarti sekedar terbebas dari keadaan terjajah, namun mungkin lebih berarti bebas untuk mengaktualkan diri di tengah-tengah perkembangan jaman ini.
Manusia yang bebas adalah manusia yang memiliki secara sendiri perbuatan-perbuatannya.

Kebebasan adalah suatu kondisi tiadanya paksaan pada aktivitas saya. Manusia disebut bebas kalau dia sungguh-sungguh mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Dengan demikian kata bebas menunjuk kepada manusia sendiri yang mempunyai kemungkinan untuk memberi arah dan isi kepada perbuatannya.

“Freedom is self-determination”. Berdasarkan pengertian itu dapat dikatakan bahwa kebebasan merupakan sesuatu sifat atau ciri khas perbuatan dan kelakuan yang hanya terdapat dalam manusia dan bukan pada binatang atau benda-benda.


4.2 Secara ringkas Louis Leahy membedakan tiga macam atau bentuk kebebasan, yaitu kebebasan fisik, kebebasan moral dan kebebasan psikologis. 

Sumber: 

disarikan dari materi Binus Maya tentang Human Philosophical Reflections 2: Knowledge, Intelligence, Affection, and Freedom Pertemuan ke-5




1. Knowledge/ Pengetahuan

Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti memandang suatu objek yang terdapat di sana, di depan subjek, yang dapat dijangkau oleh pandangan dan oleh tangan manusia. 

Terdapat berbagai macam pengetahuan: 

1.1 Indrawi lahir atau indrawi luar

Dikatakan demikian ketika orang mencapainya secara langsung, melalui penglihatan, pendengaran, pembau, perasaan, serta peraba setiap kenyataan yang mengelilinginya.

1.2 Indrawi batin

Adalah ketika menampakkan dirinya kepada orang dengan ingatan dan khayalan, baik mengenai apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauannya.

1.3 Pengetahuan perseptif


Ketika muncul secara spontan, pengetahuan itu memungkinkan orang untuk menyesuaikan dirinya secara langsung dengan situasi yang disajikan. contohnya seperti gerakan tangan, tingah laku, jeritan, daripada dengan perkataan yang dipikirkan atau dengan keterangan yang jelas.

1.4 Pengetahuan Refleksif

Ketika pengetahuan itu membuat objektif kodrat dari suatu realitas apa pun juga, yang diungkapkan dalam bentuk ide, konsep, definisi, serta putusan-putusan maupun dalam bentuk lambang, mitos, atau karya-karya seni.

1.5 Pengetahuan Diskursif

Ketika pengetahuan itu memperhatikan suatu aspek dari benda kemudian suatu aspek yang lain, ketika pengetahuan itu pergi dan datang dari keseluruhan ke bagian-bagian, dan dari bagian-bagian ke keseluruhan.
Pengetahuan dalam arti ini lebih menampakkan diri sebagai sesuatu yang datang dari sebab ke akibat dan dari akibat ke sebab, dari prinsip ke konsekuensi dan dari konsekuensi ke prinsip, dan sebagainya.

1.6 Pengetahuan Intuitif 


Ketika pengetahuan menangkap atau memahami secara langsung benda atau situasi dalam salah satu aspeknya, keseluruhan dalam satu bagian, sebab dalam akibat, konsekuensi dalam prinsip, dan sebagainya.

Meskipun pengetahuan menyerupai kesadaran namun tidak ada persesuaian yang sempurna antara pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu realitas menjadi kurang lebih dinyatakan. 

2. Intelligence


2.1 Terminologi Intelligence


Istilah Inteligensi diambil dari kata intellectus dan kata kerja intellegere (bahasa Latin). Kata intellegere terdiri dari kata intus yang artinya dalam pikiran atau akal, dan kata legere yang berarti membaca atau menangkap. Kata intellegere dengan ini berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam. 

2.2 Pengertian Intelligence


Inteligensi adalah kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi, dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi, ingatan, konseptual, abstraksi, imajinasi, atensi, konsentrasi. seleksi relasi, rencana, ekstrapolasi, prediksi, kontrol (pengendalian), memilih, mengarahkan. Berbeda dengan naluri, kebiasaan, adat istiadat, hafalan tanpa mempergunakan pikiran, tradisi.

2.3 Insight

Merupakan tahap berikutnya dari intelligence, merupakan penangkapan intelektual secara mendadak mengenai objek. Melalui tahap ini inteligensi manusia tidak hanya menyadari secara pasif apa yang terjadi, tetapi berusaha untuk menangkap esensi atau hakikat atau inti peristiwa tertentu.  

3. Affection 

Affection/Afektivitas tidak sama dengan pengetahuan, namun menjadi penggerak atau penyebab dan sekaligus akibat dari proses pengetahuan manusia dalam arti penerapannya dalam bentuk perbuatan atau tindakan. 


Cinta (disebut afektivitas positif) atau benci (disebut afektivitas negatif) dapat menjadi dasar penentuan bagi suatu tindakan kognitif.

3.1 Kondisi-kondisi untuk mencapai afaktivitas:

3.1.1 Antara subjek dan objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri, karena ketika tidak ada kesamaan maka tidak akan ada afektivitas.

3.1.2 Nilai (baik dan buruk), dalam kondisi ini, ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan kegiatan afektif, karena afektivitas itu sendiri adalah berdasar pada kecintaan akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan melahirkan kegiatan afektif untuk menolak atau menerima.




3.1.3 Sifat dasariah dan kecenderungan kognitif, pada kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus ditunjang dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih cenderung, selera, berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat dasariah tersebut.

3.1.4 Mengenal adalah kausa dari afektivitas. Dalam proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan ketika definisi tentang objek tersebut telah tercapai maka pada akhirnya akan lahir sebuah keputusan afektif apakah dia harus menyerang, mencintai, mempertahankan diri atau yang lainnya.

3.1.5 Imajinasi. Untuk menimbulkan kegiatan afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong, semangat, mempengaruhi bahkan membohongi.

3.2 Public Display of Affection

Public Display of Affection (PDA) adalah sebuah istilah umum yang sering digunakan untuk menjelaskan sebuah kegiatan yang menebar keintiman lewat demostrasi pisik yang dipertontonkan didepan khayalak ramai. Salah satu contoh dari PDA ini adalah berpelukan, berciuman, menebar kedekatan atau gerakan pisik lainya didepan umum.




4. Freedom


Freedom/kebebasan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari diri manusia, juga karena kebebasan itu dalam kenyataannya merupakan suatu yang bersifat "fragile"; kebebasan bersifat sensitif dan rapuh. Manusia adalah makhluk yang bebas, namun sekaligus manusia adalah makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya.

4.1 Pengertian Freedom


Pada jaman penjajahan kebebasan mungkin lebih diartikan sebagai keadaan terlepas dari penindasan oleh penjajah. Namun pada masyarakat modern, di mana bentuk penjajahan terhadap kebebasan juga semakin berkembang.

Kebebasan pada jaman sekarang bukan hanya berarti sekedar terbebas dari keadaan terjajah, namun mungkin lebih berarti bebas untuk mengaktualkan diri di tengah-tengah perkembangan jaman ini.
Manusia yang bebas adalah manusia yang memiliki secara sendiri perbuatan-perbuatannya.

Kebebasan adalah suatu kondisi tiadanya paksaan pada aktivitas saya. Manusia disebut bebas kalau dia sungguh-sungguh mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Dengan demikian kata bebas menunjuk kepada manusia sendiri yang mempunyai kemungkinan untuk memberi arah dan isi kepada perbuatannya.

“Freedom is self-determination”. Berdasarkan pengertian itu dapat dikatakan bahwa kebebasan merupakan sesuatu sifat atau ciri khas perbuatan dan kelakuan yang hanya terdapat dalam manusia dan bukan pada binatang atau benda-benda.


4.2 Secara ringkas Louis Leahy membedakan tiga macam atau bentuk kebebasan, yaitu kebebasan fisik, kebebasan moral dan kebebasan psikologis. 

Sumber: 

disarikan dari materi Binus Maya tentang Human Philosophical Reflections 2: Knowledge, Intelligence, Affection, and Freedom Pertemuan ke-5

diunduh dari dari http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/09/13/pda-salahkah-395263.html pada tanggal 4 April 2015 pukul 18.46 WIB 
diunduh dari dari http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/09/13/pda-salahkah-395263.html pada tanggal 4 April 2015 pukul 18.46 WIB