Human Philosophical Reflections 2: Knowledge, Intelligence, Affection, and Freedom
1. Knowledge/ Pengetahuan
Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti
memandang suatu objek yang terdapat di sana, di depan subjek, yang dapat
dijangkau oleh pandangan dan oleh tangan manusia.
Terdapat berbagai macam pengetahuan:
1.1 Indrawi lahir atau indrawi luar
Dikatakan demikian ketika orang mencapainya
secara langsung, melalui penglihatan, pendengaran, pembau, perasaan, serta
peraba setiap kenyataan yang mengelilinginya.
1.2 Indrawi batin
Adalah ketika menampakkan
dirinya kepada orang dengan ingatan dan khayalan, baik mengenai apa yang tidak
ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauannya.
1.3 Pengetahuan perseptif
Ketika muncul secara spontan, pengetahuan itu
memungkinkan orang untuk menyesuaikan dirinya secara langsung dengan situasi
yang disajikan. contohnya seperti gerakan tangan, tingah laku,
jeritan, daripada dengan perkataan yang dipikirkan atau dengan keterangan
yang jelas.
1.4 Pengetahuan Refleksif
Ketika pengetahuan itu membuat objektif
kodrat dari suatu realitas apa pun juga, yang diungkapkan dalam
bentuk ide, konsep, definisi, serta putusan-putusan maupun dalam bentuk
lambang, mitos, atau karya-karya seni.
1.5 Pengetahuan Diskursif
Ketika pengetahuan itu memperhatikan suatu
aspek dari benda kemudian suatu aspek yang lain, ketika pengetahuan itu pergi
dan datang dari keseluruhan ke bagian-bagian, dan dari bagian-bagian ke
keseluruhan.
Pengetahuan dalam arti ini lebih menampakkan
diri sebagai sesuatu yang datang dari sebab ke akibat dan dari akibat ke sebab,
dari prinsip ke konsekuensi dan dari konsekuensi ke prinsip, dan sebagainya.
1.6 Pengetahuan Intuitif
Ketika pengetahuan menangkap atau memahami secara
langsung benda atau situasi dalam salah satu aspeknya, keseluruhan dalam satu
bagian, sebab dalam akibat, konsekuensi dalam prinsip, dan sebagainya.
Meskipun pengetahuan menyerupai kesadaran
namun tidak ada persesuaian yang sempurna antara pengetahuan dan kesadaran.
Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu realitas menjadi kurang lebih
dinyatakan.
2. Intelligence
2.1 Terminologi Intelligence
Istilah Inteligensi diambil dari kata intellectus
dan kata kerja intellegere (bahasa Latin). Kata intellegere terdiri
dari kata intus yang artinya dalam pikiran atau akal, dan kata legere
yang berarti membaca atau menangkap. Kata intellegere dengan ini
berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang
dalam.
2.2 Pengertian Intelligence
Inteligensi adalah
kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi,
dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi, ingatan,
konseptual, abstraksi, imajinasi, atensi, konsentrasi. seleksi relasi, rencana,
ekstrapolasi, prediksi, kontrol (pengendalian), memilih, mengarahkan. Berbeda
dengan naluri, kebiasaan, adat istiadat, hafalan tanpa mempergunakan pikiran,
tradisi.
2.3 Insight
Merupakan tahap berikutnya dari
intelligence, merupakan penangkapan intelektual secara mendadak mengenai
objek. Melalui tahap ini inteligensi manusia tidak hanya menyadari secara pasif
apa yang terjadi, tetapi berusaha untuk menangkap esensi atau hakikat atau inti
peristiwa tertentu.
3. Affection
Affection/Afektivitas tidak sama dengan
pengetahuan, namun menjadi penggerak atau penyebab dan sekaligus akibat dari
proses pengetahuan manusia dalam arti penerapannya dalam bentuk perbuatan atau
tindakan.
Cinta (disebut afektivitas positif)
atau benci (disebut afektivitas negatif) dapat menjadi dasar penentuan
bagi suatu tindakan kognitif.
3.1 Kondisi-kondisi untuk mencapai
afaktivitas:
3.1.1 Antara subjek dan
objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri, karena ketika tidak
ada kesamaan maka tidak akan ada afektivitas.
3.1.2 Nilai (baik dan buruk), dalam kondisi
ini, ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan
kegiatan afektif, karena afektivitas itu sendiri adalah berdasar pada kecintaan
akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan melahirkan kegiatan afektif untuk
menolak atau menerima.
3.1.3 Sifat dasariah dan kecenderungan
kognitif, pada kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus
ditunjang dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih
cenderung, selera, berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan
menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat dasariah
tersebut.
3.1.4 Mengenal adalah kausa dari afektivitas.
Dalam proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha
mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan ketika definisi tentang objek
tersebut telah tercapai maka pada akhirnya akan lahir sebuah keputusan afektif
apakah dia harus menyerang, mencintai, mempertahankan diri atau yang lainnya.
3.1.5 Imajinasi. Untuk menimbulkan kegiatan
afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong, semangat, mempengaruhi
bahkan membohongi.
3.2 Public Display of Affection
Public Display of Affection (PDA) adalah
sebuah istilah umum yang sering digunakan untuk menjelaskan sebuah kegiatan
yang menebar keintiman lewat demostrasi pisik yang dipertontonkan didepan
khayalak ramai. Salah satu contoh dari PDA ini adalah berpelukan, berciuman,
menebar kedekatan atau gerakan pisik lainya didepan umum.
4. Freedom
Freedom/kebebasan merupakan hal yang tidak
bisa dipisahkan dari diri manusia, juga karena kebebasan itu dalam kenyataannya
merupakan suatu yang bersifat "fragile"; kebebasan bersifat
sensitif dan rapuh. Manusia adalah makhluk yang bebas, namun sekaligus manusia adalah
makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya.
4.1 Pengertian Freedom
Pada jaman penjajahan kebebasan mungkin lebih
diartikan sebagai keadaan terlepas dari penindasan oleh penjajah. Namun pada
masyarakat modern, di mana bentuk penjajahan terhadap kebebasan juga semakin
berkembang.
Kebebasan pada jaman sekarang bukan hanya
berarti sekedar terbebas dari keadaan terjajah, namun mungkin lebih berarti
bebas untuk mengaktualkan diri di tengah-tengah perkembangan jaman ini.
Manusia yang bebas adalah manusia yang
memiliki secara sendiri perbuatan-perbuatannya.
Kebebasan adalah suatu kondisi tiadanya
paksaan pada aktivitas saya. Manusia disebut bebas kalau dia sungguh-sungguh
mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Dengan demikian
kata bebas menunjuk kepada manusia sendiri yang mempunyai kemungkinan untuk
memberi arah dan isi kepada perbuatannya.
“Freedom is self-determination”. Berdasarkan pengertian itu dapat dikatakan bahwa kebebasan merupakan
sesuatu sifat atau ciri khas perbuatan dan kelakuan yang hanya terdapat dalam
manusia dan bukan pada binatang atau benda-benda.
4.2 Secara ringkas Louis Leahy membedakan
tiga macam atau bentuk kebebasan, yaitu kebebasan fisik, kebebasan moral dan
kebebasan psikologis.
Sumber:
disarikan dari materi Binus Maya tentang
Human Philosophical Reflections 2: Knowledge, Intelligence, Affection, and
Freedom Pertemuan ke-5
1. Knowledge/ Pengetahuan
Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti
memandang suatu objek yang terdapat di sana, di depan subjek, yang dapat
dijangkau oleh pandangan dan oleh tangan manusia.
Terdapat berbagai macam pengetahuan:
1.1 Indrawi lahir atau indrawi luar
Dikatakan demikian ketika orang mencapainya
secara langsung, melalui penglihatan, pendengaran, pembau, perasaan, serta
peraba setiap kenyataan yang mengelilinginya.
1.2 Indrawi batin
Adalah ketika menampakkan
dirinya kepada orang dengan ingatan dan khayalan, baik mengenai apa yang tidak
ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauannya.
1.3 Pengetahuan perseptif
Ketika muncul secara spontan, pengetahuan itu
memungkinkan orang untuk menyesuaikan dirinya secara langsung dengan situasi
yang disajikan. contohnya seperti gerakan tangan, tingah laku,
jeritan, daripada dengan perkataan yang dipikirkan atau dengan keterangan
yang jelas.
1.4 Pengetahuan Refleksif
Ketika pengetahuan itu membuat objektif
kodrat dari suatu realitas apa pun juga, yang diungkapkan dalam
bentuk ide, konsep, definisi, serta putusan-putusan maupun dalam bentuk
lambang, mitos, atau karya-karya seni.
1.5 Pengetahuan Diskursif
Ketika pengetahuan itu memperhatikan suatu
aspek dari benda kemudian suatu aspek yang lain, ketika pengetahuan itu pergi
dan datang dari keseluruhan ke bagian-bagian, dan dari bagian-bagian ke
keseluruhan.
Pengetahuan dalam arti ini lebih menampakkan
diri sebagai sesuatu yang datang dari sebab ke akibat dan dari akibat ke sebab,
dari prinsip ke konsekuensi dan dari konsekuensi ke prinsip, dan sebagainya.
1.6 Pengetahuan Intuitif
Ketika pengetahuan menangkap atau memahami secara
langsung benda atau situasi dalam salah satu aspeknya, keseluruhan dalam satu
bagian, sebab dalam akibat, konsekuensi dalam prinsip, dan sebagainya.
Meskipun pengetahuan menyerupai kesadaran
namun tidak ada persesuaian yang sempurna antara pengetahuan dan kesadaran.
Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu realitas menjadi kurang lebih
dinyatakan.
2. Intelligence
2.1 Terminologi Intelligence
Istilah Inteligensi diambil dari kata intellectus
dan kata kerja intellegere (bahasa Latin). Kata intellegere terdiri
dari kata intus yang artinya dalam pikiran atau akal, dan kata legere
yang berarti membaca atau menangkap. Kata intellegere dengan ini
berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang
dalam.
2.2 Pengertian Intelligence
Inteligensi adalah
kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi,
dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi, ingatan,
konseptual, abstraksi, imajinasi, atensi, konsentrasi. seleksi relasi, rencana,
ekstrapolasi, prediksi, kontrol (pengendalian), memilih, mengarahkan. Berbeda
dengan naluri, kebiasaan, adat istiadat, hafalan tanpa mempergunakan pikiran,
tradisi.
2.3 Insight
Merupakan tahap berikutnya dari
intelligence, merupakan penangkapan intelektual secara mendadak mengenai
objek. Melalui tahap ini inteligensi manusia tidak hanya menyadari secara pasif
apa yang terjadi, tetapi berusaha untuk menangkap esensi atau hakikat atau inti
peristiwa tertentu.
3. Affection
Affection/Afektivitas tidak sama dengan
pengetahuan, namun menjadi penggerak atau penyebab dan sekaligus akibat dari
proses pengetahuan manusia dalam arti penerapannya dalam bentuk perbuatan atau
tindakan.
Cinta (disebut afektivitas positif)
atau benci (disebut afektivitas negatif) dapat menjadi dasar penentuan
bagi suatu tindakan kognitif.
3.1 Kondisi-kondisi untuk mencapai
afaktivitas:
3.1.1 Antara subjek dan
objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri, karena ketika tidak
ada kesamaan maka tidak akan ada afektivitas.
3.1.2 Nilai (baik dan buruk), dalam kondisi
ini, ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan
kegiatan afektif, karena afektivitas itu sendiri adalah berdasar pada kecintaan
akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan melahirkan kegiatan afektif untuk
menolak atau menerima.
3.1.3 Sifat dasariah dan kecenderungan
kognitif, pada kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus
ditunjang dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih
cenderung, selera, berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan
menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat dasariah
tersebut.
3.1.4 Mengenal adalah kausa dari afektivitas.
Dalam proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha
mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan ketika definisi tentang objek
tersebut telah tercapai maka pada akhirnya akan lahir sebuah keputusan afektif
apakah dia harus menyerang, mencintai, mempertahankan diri atau yang lainnya.
3.1.5 Imajinasi. Untuk menimbulkan kegiatan
afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong, semangat, mempengaruhi
bahkan membohongi.
3.2 Public Display of Affection
Public Display of Affection (PDA) adalah
sebuah istilah umum yang sering digunakan untuk menjelaskan sebuah kegiatan
yang menebar keintiman lewat demostrasi pisik yang dipertontonkan didepan
khayalak ramai. Salah satu contoh dari PDA ini adalah berpelukan, berciuman,
menebar kedekatan atau gerakan pisik lainya didepan umum.
4. Freedom
Freedom/kebebasan merupakan hal yang tidak
bisa dipisahkan dari diri manusia, juga karena kebebasan itu dalam kenyataannya
merupakan suatu yang bersifat "fragile"; kebebasan bersifat
sensitif dan rapuh. Manusia adalah makhluk yang bebas, namun sekaligus manusia adalah
makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya.
4.1 Pengertian Freedom
Pada jaman penjajahan kebebasan mungkin lebih
diartikan sebagai keadaan terlepas dari penindasan oleh penjajah. Namun pada
masyarakat modern, di mana bentuk penjajahan terhadap kebebasan juga semakin
berkembang.
Kebebasan pada jaman sekarang bukan hanya
berarti sekedar terbebas dari keadaan terjajah, namun mungkin lebih berarti
bebas untuk mengaktualkan diri di tengah-tengah perkembangan jaman ini.
Manusia yang bebas adalah manusia yang
memiliki secara sendiri perbuatan-perbuatannya.
Kebebasan adalah suatu kondisi tiadanya
paksaan pada aktivitas saya. Manusia disebut bebas kalau dia sungguh-sungguh
mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Dengan demikian
kata bebas menunjuk kepada manusia sendiri yang mempunyai kemungkinan untuk
memberi arah dan isi kepada perbuatannya.
“Freedom is self-determination”. Berdasarkan pengertian itu dapat dikatakan bahwa kebebasan merupakan
sesuatu sifat atau ciri khas perbuatan dan kelakuan yang hanya terdapat dalam
manusia dan bukan pada binatang atau benda-benda.
4.2 Secara ringkas Louis Leahy membedakan
tiga macam atau bentuk kebebasan, yaitu kebebasan fisik, kebebasan moral dan
kebebasan psikologis.
Sumber:
disarikan dari materi Binus Maya tentang
Human Philosophical Reflections 2: Knowledge, Intelligence, Affection, and
Freedom Pertemuan ke-5
diunduh dari dari
http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/09/13/pda-salahkah-395263.html
pada tanggal 4 April 2015 pukul 18.46 WIB
diunduh dari dari
http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/09/13/pda-salahkah-395263.html
pada tanggal 4 April 2015 pukul 18.46 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar